Inlander Adalah Istilah Apa Asal Usulnya dan Maknanya dalam Sejarah Kolonial Indonesia

Inlander Adalah Istilah Apa Asal Usulnya dan Maknanya dalam Sejarah Kolonial Indonesia

Dalam sejarah kolonial Indonesia, banyak istilah yang digunakan untuk membedakan status sosial dan ras. Salah satu istilah yang paling dikenal dan memiliki konotasi negatif adalah inlander. Kata ini tidak sekadar sebutan, melainkan mencerminkan sistem hierarki yang diterapkan Belanda di Hindia Belanda.

Artikel ini membahas pengertian inlander, asal usulnya, serta makna dan dampaknya dalam sejarah kolonial Indonesia.

Pengertian Inlander

Inlander adalah istilah yang digunakan orang Belanda untuk menyebut penduduk asli atau pribumi di wilayah jajahan Hindia Belanda. Dalam bahasa Belanda, “inlander” secara harfiah berarti “anak negeri” atau “penduduk setempat”.

Namun dalam praktiknya, istilah ini berkembang menjadi sebutan yang merendahkan. Inlander ditempatkan pada strata sosial paling bawah dalam sistem pembagian penduduk kolonial.

Menurut KBBI, inlander berarti pribumi. Namun sejarah penggunaannya jauh lebih kompleks dan sarat diskriminasi.

Asal Usul Istilah Inlander

Pada abad ke-17, khususnya di Batavia, kata inlander awalnya merujuk pada kelompok tertentu. Sejarawan Hendrik E. Niemeijer menjelaskan bahwa inlander semula dipakai untuk menyebut para budak Asia yang telah dibebaskan dan memeluk agama Kristen. Kelompok ini dikenal sebagai mardijker.

Seiring waktu, makna kata ini meluas. Pada abad ke-18 dan terutama setelah abad ke-19, inlander digunakan secara umum untuk seluruh penduduk pribumi, termasuk yang beragama Islam.

Istilah ini dikukuhkan secara hukum dalam Regeringsreglement 1854. Peraturan tersebut membagi penduduk Hindia Belanda menjadi tiga golongan:

  • Golongan Eropa (Europeanen)
  • Golongan Timur Asing (Vreemde Oosterlingen), seperti Cina, Arab, dan India
  • Golongan Inlander (pribumi)

Golongan Eropa berada di puncak hierarki, sementara inlander berada di lapisan terbawah.

Makna dan Konotasi dalam Masa Kolonial

Dalam kehidupan sehari-hari, inlander sering dikaitkan dengan stereotip negatif. Orang Belanda menggambarkan inlander sebagai pemalas, bodoh, nrimo, dan terbelakang. Bahkan terdapat rambu-rambu di tempat umum yang bertuliskan “Verboden voor honden en inlanders” (Anjing dan pribumi dilarang masuk).

Pembagian ini bukan hanya administratif, tetapi juga mengatur hak hukum, akses pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Inlander memiliki hak yang jauh lebih terbatas dibanding golongan Eropa.

Pada masa pergerakan nasional, tokoh seperti Mohammad Husni Thamrin menolak penggunaan istilah inlander. Ia mengusulkan agar diganti dengan “Indonesier” karena kata inlander sudah mengandung arti yang merendahkan.

Dampak Jangka Panjang

Istilah inlander meninggalkan jejak dalam memori kolektif. Bahkan setelah kemerdekaan, muncul istilah “mental inlander” yang digunakan untuk mengkritik sikap rendah diri, kurang percaya diri, atau sikap pasrah yang dianggap sebagai warisan kolonial.

Para founding fathers kemudian lebih memilih istilah bumiputera atau Indonesia untuk membangun identitas yang bermartabat.

Kesimpulan

Inlander adalah istilah kolonial Belanda untuk menyebut penduduk pribumi di Hindia Belanda. Awalnya merujuk pada budak yang dimerdekakan dan beragama Kristen, kemudian meluas menjadi sebutan umum yang bersifat merendahkan. Melalui sistem hukum dan praktik sosial, istilah ini memperkuat hierarki rasial dan diskriminasi. Memahami asal usul dan maknanya membantu kita melihat bagaimana bahasa digunakan sebagai alat kekuasaan pada masa kolonial.